game online

Waspada, Ternyata Candu Game Online Bisa Buat Orang Kena Narkotika Lewat Mata

Bagi sebagian orang yang tidak terbiasa bermain game awalnya dianggap sebagai rekreasi untuk menghibur diri, tapi lama kelamaan dapat berubah menjadi kecanduan kalau tidak bisa mengontrol diri. Apa yang membuat game menjadi candu? Sama halnya dengan kecanduan lainnya, kecanduan main game adalah masalah yang multi aspek. Desainer video game selalu mencari cara untuk membuat game mereka lebih menarik dan orang betah berlama-lama memainkan game tersebut.

Saat ini sangat banyak sekali video game yang bisa dimainkan di komputer dan smartphone. Hal inilah yang membuat semakin banyaknya manusia yang tergoda untuk memainkan game tersebut. Game online yang biasa dimainkan oleh pecandu biasanya adalah jenis game yang berkelanjutan dan dimainkan secara berkelompok selama berjam-jam.

Pemain dapat berasal dari berbagai negara yang terhubung secara online, mereka membentuk tim dan menyusun strategi, sehingga terbentuk interaksi sosial yang sifatnya virtual namun signifikan selama permainan berlangsung. Di sisi lain, aktivitas ini memutus interaksi sosial pemain dengan orang-orang di lingkungan sekitarnya bahkan dengan keluarganya juga.

Akibatnya banyak pecandu game online yang tidak menyelesaikan sekolahnya, kehilangan pekerjaan atau mengalami kegagalan dalam pernikahan. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang bagaimana game online dapat memberi rasa candu bagi orang yang memainkannya, dan bagaimana dampak yang diberikan kepada orang yang menjadi pecandunya, simak ulasannya disini.

Berikut faktor yang membuat seseorang bisa candu kepada game online :

Mereka ingin orang yang memainkan game mereka tidak pernah ingin berhenti bermain. Oleh karena itu, mereka merancang game sedemikian rupa agar mudah untuk dimainkan namun lebih menantang, dimana pemain dibuat sulit untuk bisa menang sehingga mereka semakin tertantang untuk terus bermain. Dalam hal ini, desain video game mirip dengan desain kasino perjudian, jadi kesempatan pemain untuk menang sangat kecil agar mereka bisa terus bermain.

Faktor lain yang membuat seseorang baik itu dari kalangan anak-anak sekalipun menjadi kecanduan game disebabkan rasa bosan, hubungan dengan anggota keluarga tidak harmonis, merasa terbuang di sekolah atau tidak diperhatikan di rumah dan bisa juga karena faktor lingkungan yang ada. Faktor-faktor itu membuat seseorang lebih mudah menjadi kecanduan game untuk mengisi kekosongan jiwa dan memenuhi kebutuhan yang tidak mereka dapat dari tempat lain.

Selain faktor psikologis, konon katanya ada elemen fisiologis yang membuat seseorang menjadi kecanduan bermain game. Para peneliti di Rumah Sakit Hammersmith di London pernah melakukan penelitian pada tahun 2005 dan menemukan bahwa tingkat dopamin di otak pemain naik dua kali lipat saat mereka bermain game. Dopamin adalah hormon yang mengatur suasana hati yang berkaitan dengan perasaan senang. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa game benar-benar bisa menjadi adiktif.

Kecanduan game adalah masalah nyata yang dihadapi para orang tua, guru, dan mungkin pemainnya sendiri. Solusinya bukan menjauhkan mereka dari komputer atau gadget. Orangtua sebaiknya mulai membangun komunikasi yang aktif dan dua arah dengan anak mereka. Buat aturan saat bermain game. Ajak anak untuk melakukan kegiatan fisik seperti ikut klub olahraga, membentuk grup musik (band), atau sekadar bermain dengan anak tetangga.

Dampak kecanduan game online

Salah satu dampaknya menurut salah satu dokter ahli kejiwaan itu yaitu bisa memicu perubahan perilaku seseorang. “Games memengaruhi otak secara psikis. Secara emosionalnya dia juga terganggu. Secara tak sadar, pasien meniru perilaku yang ditampilkan gim online tersebut”. Ungkapnya

Kecanduan gim online juga bisa menyebabkan kematian. Contohnya di Korea Selatan, misalnya, seorang pemuda yang meregang nyawa di sebuah kafe internet setelah bermain Game online selama 50 jam tanpa henti. Kisah lebih tragis juga terjadi di Tiongkok. Ibu dan anak sama-sama bunuh diri. Dan semua itu karena game online.

Sama halnya dengan seorang pria di Taiwan yang ditemukan tewas di depan komputer setelah tiga hari berturut-turut bermain game online, tanpa jeda. Dan juga bocah 3 tahun di Korsel yang tewas karena ditelantarkan orangtuanya yang tersihir permainan daring. Permainan itu juga diduga memicu sikap agresif pada seseorang. Di China juga ada seorang remaja 15 tahun yang tega menusuk ibunya sendiri hingga tewas, hanya karena sang bunda dianggap mengganggunya saat dirinya bermain di warnet.

Game Online juga bisa berbentuk narkotika lewat mata (Narkolema)

Kondisi ini dikaitkan erat dengan game online yaitu narkolema alias narkotika lewat mata. Istilah tersebut merujuk pada efek candu dan merusak dari tayangan yang menarik perhatian seseorang. Menurut Penelitian para psikolog yang tergabung dalam American Medical Associations (AMA), ketika bermain game online, terjadi pelepasan zat yang menimbulkan perasaan senang dan nyaman, seperti ketika melakukan hobi yang disuka dan makan enak.

Hal yang sama juga muncul ketika seseorang mengonsumsi narkotika dan menonton film porno. Menurut Psikiater Suzy Yusna, candu game online lebih berbahaya dari narkoba. Mengapa seperti itu? “Pecandu narkoba itu ada batas toleransi, kematian atau jadi sakau. Kalau game online tidak ada efeknya. tapi Tiba-tiba sudah rusak otaknya. Otomatis, kalau sudah rusak tidak bisa berpikir lagi,” tuturnya.

Psikiater sekaligus dokter jiwa anak dan remaja ini juga menambahkan, tak hanya menjadi candu, dampak negatif memainkan game online datang dari konten-kontennya, yang bermuatan pornografi dan kekerasan, terutama yang ditonton anak di bawah umur. “Secara psikis, secara emosionalnya dia juga terganggu. Misalnya, tiba-tiba dia dorong teman, tiba-tiba memukul, misalnya,” kata Suzy.

Dirinya menjelaskan, penanganan pasien kecanduan gim online biasanya lewat konsultasi terlebih dulu. Kemudian, dengan pemeriksaan lebih mendalam dengan beberapa alat medis. Pemeriksaan secara medis dimulai dengan brain mapping menggunakan Electroencephalogram (SSG) untuk mencatat aktivitas gelombang otak selama kurun waktu tertentu. Alat ini digunakan untuk melihat tingkat konsentrasi dan ketegangan otak dan masalah yang kerap timbul dari serangan narkolema.

Kecanduan game online bisa dikatakan sama bahayanya dengan kecanduan napza (narkoba, psikotropika, zat adiktif). Bedanya, kecanduan ini sifatnya silent atau non-zat, dampaknya tak nampak secara fisik. Peningkatan kasus kecanduan game online dan media sosial berkaitan dengan mudahnya mendapatkan ponsel dan mengunduh aplikasi di zaman sekarang ini. Padahal, “smartphone addiction ini bisa merambah pada kecanduan lain. Misalnya pornografi dan lainnya.

Game online bisa diolah menjadi uang

Menurut Global Games Market Report di tahun 2017, kosumen video game terbanyak berada di Asia Pasifik. Jumlahnya mencakup 47% (persen) konsumen global. Dan Indonesia menduduki peringkat ke-16 pasar games di kanca dunia. Saat ini, setidaknya ada 43,7 juta pemain game di tanah air. Mereka bisa menghabiskan Rp 12 triliun per tahun untuk bermain.

Pemerintah pun meningkatkan pengawasan dan regulasi terhadap keberadaan industri game di Indonesia. “Kita sudah buat regulasi, klasifikasi permain interaktif elektronik, Indonesia Game Rating System . IGRS merupakan implemetasi peraturan Menkominfo Nomor 11 Tahun 2016 tentang klasifikasi permainan interaktif elektronik, berdasarkan konten dan rating usia. Fungsi regulasi yang ditentukan oleh Kemkominfo dalam IGRS dibuat untuk meningkatkan kepedulian masyarakat atas produk game yang dimainkan. Itu juga bisa jadi panduan bagi orangtua untuk mengawasi Game-game yang dimainkan anak-anak mereka.

Peran orang tua dalam mengawasi permainan video gim anak-anak justru bisa memberikan dampak positif bagi anak-anak di masa mendatang. Hal ini terbukti dengan kesuksesan duo kakak beradik, Tara Art Game. Mereka sukses menjadi bintang situs berbagi video, punya 500 ribu penonton di setiap rekaman soal ulasan berbagai game online dan offline. Dalam dua tahun terakhir, mereka bisa mendapatkan sekitar US$ 5.000 per video. Kini, Tara (28) dan Gema (23) dibanjiri permintaan developer game untuk mereview produk mereka.

Tawaran endorsment pun datang dari berbagai perusahaan elektronik yang berhubungan dengan perangkat gim (konsol) untuk dipromosikan di akun jejaring sosial mereka. Padahal, Tara dan Gema mengaku, dulu dibatasi main game oleh orangtua. Diawasi ketat. Tak jarang, ayah dan ibunya bermain bersama mereka. “Sekarang video game adalah salah satu pekerjaan kami. Baru sekarang kita main bisa main 4 sampai 5 jam per hari,” kata Gema.

Peminat utama game online

Hingga saat ini, prevalensi pecandu game online belum jelas berapa banyak, namun kemungkinan tertinggi ada di negara-negara Asia, dan khususnya pada genre laki-laki, dari usia 12-20 tahun. Kasus ini banyak dilaporkan di negara-negara Asia, terutama Cina dan Korea Selatan, namun lebih sedikit di Eropa dan Amerika.

Faktor dan risiko yang berpengaruh antara lain ketersediaan koneksi internet yang memungkinkan akses game online, remaja, dan laki-laki. Masih perlu dilakukan penelitian mengenai keterlibatan genetik maupun faktor lainnya untuk menunjukkan mengapa kebanyakan kasus ditemukan di negara-negara Asia.

Cara menangani anak atau keluarga yang kecanduan game

Ada banyak cara orang tua untuk secara aktif mengawasi anak-anak yang bermain game online:

  • Mendiskusikan risiko dan bahaya bermain game online dengan anak
  • Tanyakan kepada anak Anda, game apa yang sedang mereka mainkan.
  • Ada baiknya Anda juga mencoba permainan tersebut untuk melihat apakah game tersebut sesuai dengan usia anak anda. Beberapa game sangat sarat akan kekerasan yang mungkin ditiru anak.
  • Melakukan komunikasi secara terbuka.

Pentingnya peran orang tua untuk aktif mengawasi kegiatan anak memang sangat diperlukan. Para orang tua harus meluangkan waktu untuk bisa bermain dan mengobrol dengan anak-anak agar mereka merasa diperhatikan dan mendapat kasih sayang. Demikian info yang kami sampaikan. Semoga bermanfaat bagi anda yang membacanya.