ekonomi

Mulai Menunjukkan Perubahan, Inilah Laporan Pertumbuhan Ekonomi Di Indonesia

Adakah diantara Anda yang tahu bagaimana perkembangan yang sedang dialami indonesia saat ini? Jika banyak diantara anda yang belum mengetahui bagaimana kabar Ekonomi Indonesia saat ini, yukk simak ulasan yang satu ini agar kamu bisa tau apa yang terjadi dengan pertumbuhan ekonomi negara tercinta kita ini.

Menurut Laporan Menteri Perekonomian

Pertumbuhan ekonomi Indonesia sedang dalam masa perputaran balik. Sejak tahun 2016 Indonesia telah berhasil memutarbalikkan arah perkembangan ekonomi saat itu, dari perlambatan menjadi percepatan yang terbilang cukup fantastis. Hal ini disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI, Darmin Nasution, dalam Forum Kompas 100 CEO, pada Rabu (29/11/2017). Beliau juga menjelaskan, “Walau pun sudah berbalik arah, namun perkembangan ini memang masih memiliki angka yang terbilang rendah”.

Mengapa demikian? “Tahun lalu 5 (persen) dan tahun ini 5,1 (persen). Tapi bedanya di irama ekonomi, kita lebih dulu berhasil mengembalikan arah dari perlambatan menuju percepatan,” ujarnya kembali. Meski angka pertumbuhannya terbilang rendah, namun pertumbuhan ini jelas membawa keadaan perekonomian masyarakat Indonesia ke arah yang lebih baik. Darmin menjelaskan bahwa meski pertumbuhan ekonomi Indonesia lambat, tapi banyak indikator lain yang membaik.

Lebih lanjutnya Darmin menyatakan ada sejumlah hal yang membuat pertumbuhan ekonomi Indonesia berkualitas, meski masih kecil angkanya. Antara lain melihat pergerakan tingkat kemiskinan, pengangguran, dan ketimpangan atau gini ratio yang membaik. Darmin mengatakan bahwa dalam dalam dua tahun terakhir, Indonesia telah mengalami perbaikan di tiga sektor tersebut. Salah satu pendorongnya adalah pembangunan infrastruktur.

“Pertumbuhan ekonomi berkualitas itu selain pertumbuhan yang cukup baik, cukup tinggi atau tidak, bagaimana tingkat penganggurannya, bagaimana tingkat kemiskinannya, bagaimana gini rationya, semuanya menunjukkan baik, kita, dalam 2 tahun terakhir,” ungkap Darmin.

“Walaupun mungkin secara struktural kebijakan pemerataan belum berjalan optimum, akan tetapi pembangunan infrastruktur yang menyebar di seluruh Indonesia, itu menghasilkan gini ratio yang baik. Ini bukan infrastruktur kecil, tapi yang punya dampak nasional,” sambungnya.

Kemudian Darmin juga mengungkapkan bahwa Indonesia terlah berhasil menekan angka inflasi yang cukup rendah dalam tiga tahun berturut-turut.

“Ekonomi kita beberapa tahun ini walaupun pertumbuhan tidak tinggi, tapi itu satu inflasi bagus stabilitas bagus. Kita mulai bisa mempertahankan inflasi, 3-3,5% dalam 3 tahun berturut-turut. Enggak pernah sebelumnya, paling sebelumnya hanya setahun bisa jaga inflasi seperti itu,” kata Darmin.

Darmin mengatakan, pertumbuhan berkualitas sebenarnya masih memiliki satu faktor lagi, agar benar-benar berkualitas. Faktor tersebut merupakan transformasi struktural.

“Transformasi struktural transformasi ekonomi, jadi seberapa banyak orang pindah dari sektor yang rendah produktivitasnya ke yang tinggi. Kita bagaimana? Masih ada perbaikan tapi memang lambat. Itu ada industri manufaktur kita. Jadi kita andalkan pariwisata, bidang pangan, satu catatan terakhir mengenai industri manufaktur, lagi-lagi seperti infrastruktur kita lihat minat investor di dunia tidak terlalu tinggi. Karena di dunia ini perdagangan melambat selama 5-6 tahun terakhir,” ungkapnya.

Terakhir, Darmin juga memperkirakan pada 2018 mendatang, Indonesia bisa meraih pertumbuhan ekonomi hingga 5,4% yang dihasilkan dari pembangunan-pembangunan yang sedang di lakukan pemerintah saat ini. “Kesimpulannya bagaimana tahun depan? Ya memang kita pondasinya sudah mulai dibangun dengan baik, belum selesai, pada saat dia mulai menghasilkan, sebagian infrastruktur itu belum selesai. Tapi sebagian masih dibangun dan kalau selesai baru dampaknya keluarnya cepat,” jelasnya.

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Menurut BI

Bank Indonesia ( BI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada tahun 2019 hingga 2022 akan meningkat. Bank sentral memproyeksikan pertumbuhan ekonomi pada tahun 2022 berkisar 5,8-6,2 persen. Inflasi pun diprediksi terkendali pada kisaran 3 plus minus 1 persen pada tahun 2022. Ini didukung sisi supply (pasokan) yang lebih kuat dalam mengakomodasi permintaan.

Defisit transaksi berjalan diperkirakan bakal menurun. Gubernur BI Agus DW Martowardojo mengungkapkan, jika bank sentral meyakini defisit transaksi berjalan tetap pada level yang sehat di bawah 3 persen dari produk domestik bruto (PDB). “Kami berkeyakinan, kebijakan-kebijakan penguatan momentum pemulihan ekonomi jangka pendek yang mempercepat transformasi ekonomi, dapat membawa perekonomian tumbuh lebih kuat, berkelanjutan, seimbang, dan inklusif,” ujar Agus.

Agus mengungkapkan, momentum pemulihan ekonomi yang sedang berjalan saat ini merupakan tahapan awal yang harus dirawat dan perkuat. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat bertransformasi menjadi lebih kuat, berkelanjutan, seimbang, dan inklusif.

“Kompleksitas permasalahan yang ada menyiratkan perlunya upaya yang tersinergi untuk menjaga kesinambungan dari keseimbangan kebijakan pada tiap tahapan menuju terwujudnya cita-cita mulia bersama,” ungkap Agus.

Adapun di tahun 2017 ini, bank sentral memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,1 persen. Dan inflasinya diperkirakan berkisar antara 3-3,5 persen dan defisit transaksi berjalan di bawah 2 persen dari PDB.

Laporan Triwulan pertumbuhan Ekonomi Indonesia dari Maret 2017

  • Pertumbuhan ekonomi bertambah untuk pertama kalinya dalam lima tahun terakhir, yang mengalami kenaikan menjadi 5.0 persen pada tahun 2016 dari 4,9 persen pada 2015, meski ketidakpastian kebijakan global masih tinggi. Rupiah yang stabil, inflasi yang rendah, turunnya angka pengangguran dan naiknya upah riil mengangkat kepercayaan konsumen dan konsumsi swasta. Sebaliknya, belanja pemerintah dan pertumbuhan investasi melambat menjadi penghambat pertumbuhan ekonomi untuk 2016 secara keseluruhan.
  • Fondasi ekonomi Indonesia tetap kokoh, didukung tingkat pertumbuhan ekonomi yang kuat, defisit neraca berjalan dan tingkat pengangguran beberapa tahun terakhir yang rendah dalam, defisit fiskal yang terjaga baik, serta inflasi yang rendah. Kemiskinan dan ketimpangan juga menurun pada tahun 2016.
  • Kredibilitas fiskal yang menguat dengan adanya pemangkasan belanja pemerintah, serta sasaran yang lebih bisa dicapai dalam APBN 2017, memperkuat kepercayaan investor. Defisit fiskal pada tahun 2016 sebesar 2,5 persen dari PDB, lebih rendah dari perkiraan sebesar 2,6 persen di tahun 2015.
  • Defisit neraca berjalan saat ini berada di tingkat terendah dalam 5 tahun terakhir, yaitu 0.8% dari PDB pada kuartal keempat 2016, karena ekspor manufaktur menguat. Untuk tahun 2016 secara keseluruhan, defisit neraca berjalan berkurang dari 1,8% dari 2.0% pada tahun 2015.
  • Pertumbuhan PDB riil diproyeksikan naik menjadi 5,2 persen di tahun 2017, dan mencapai 5,3 persen pada 2018. Konsumsi rumahtangga diproyeksikan semakin baik dengan adanya Rupiah yang stabil, upah riil lebih tinggi dan terus menurunnya angka pengangguran. Pertumbuhan investasi swasta diproyeksikan naik seiring pulihnya harga-harga komoditas, serta dampak kemudahan moneter pada tahun 2016 dan mulai berdampaknya reformasi ekonomi belakangan ini. Harga komoditas yang lebih tinggi juga akan mengurangi hambatan fiskal dan mengangkat belanja pemerintah, sementara pertumbuhan global yang lebih kuat akan mendorong ekspor.
  • Inflasi diperkirakan naik sementara dari 3,5 persen pada tahun 2016 menjadi 4,3 persen pada tahun 2017 akibat naiknya tarif listrik dan pajak kendaraan.
  • Beberapa risiko bagi proyeksi pertumbuhan termasuk perubahan tak terduga dari kebijakan monter Amerika Serikat, ketidakpastian politik Eropa, inflasi domestik yang lebih tinggi dari perkiraan, serta pendapatan fiskal yang rendah.
  • Laporan ini juga berisi kajian mengenai perdagangan jasa. Dan mengusulkan untuk menguransi hambatan pada sektor jasa untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing . Menurut data Organization for Economic Cooperation and Development, Indonesia termasuk negara dengan hambatan terbanyak untuk perdagangan jasa. Hambatan perdagangan untuk jasa mengurangi mutu sebuah layanan juga menghambat produktivitas sektor-sektor ekonomi lain. Menghilangkan hambatan tersebut akan membawa manfaat ekonomi yang luas.
  • Laporan edisi Maret 2017 juga membahas perubahan program Kredit Usaha Rakyat dalam hal pemberian pinjaman bersubsidi untuk usaha mikro, kecil dan menengah telah berdampak menaikkan biaya program sebesar 10 kali lipat. Dengan sasaran yang lebih baik, laporan ini menunjukkan bahwa biaya bisa lebih rendah, dan sisa dananya bisa dialokasikan ke sektor prioritas lain yang belum mendapat cukup dana. Perlu adanya peninjauan kembali terhadap penggunaan pinjaman bersubsidi untuk usaha mikro, kecil dan menengah.

Seperti yang telah dilaporkan dari beberapa sumber terkait, Indonesia saat ini memang tengah meranjak perlahan dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Namun peningkatan itu tidak terjadi begitu saja, ada beberapa faktor pendorong yang membuat pertumbuhan ekonomi ini meningkat. Berikut ulasannya.

Faktor Pendorong Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Pemerintah mengandalkan tiga sumber untuk mendorong pertumbuhan ekonomi 5,5%-6% pada 2015, yakni Konsumsi rumah tangga, Investasi, dan Ekspor.

Menteri Keuangan M. Chatib Basri memaparkan pertumbuhan konsumsi rumah tangga diperkirakan masih cukup tinggi yang didorong oleh struktur demografi yang didominasi oleh penduduk usia produktif dan peningkatan kelompok berpendapatan menengah atas.

Sementara itu, penguatan kinerja investasi domestik diharapkan menjadi penopang terhadap kinerja pertumbuhan ekonomi 2015. Penguatan itu terkait dengan upaya-upaya perbaikan iklim usaha serta investasi di dalam negeri, program pembangunan infrastruktur, seperti energi, pelabuhan, transportasi, perbaikan daftar negatif investasi, peningkatan belanja modal, penyebaran aktivitas investasi ke daerah yang lebih merata serta penguatan peran swasta melalui skema public-private partnership.

Peningkatan peran BUMN dalam pembangunan konektivitas nasional juga diarahkan untuk mendukung sistem logistik nasional dalam rangka peningkatan daya saing investasi. Adapun, kinerja ekspor 2015 diperkirakan mengalami perbaikan, didukung oleh perkiraan menguatnya perekonomian global dan volume perdagangan dunia serta peningkatan harga komoditas Indonesia.

“Perbaikan kinerja ekspor juga didukung oleh upaya diversifikasi pasar, peningkatan peran komoditas ekspor hasil olahan bernilai tambah tinggi, serta peluang lebih terbukanya pasar regional seiring dengan pelaksanaan Masyarakat Ekonomi Asean atau MEA,” jelas Basri

Di sisi lain, upaya mengurangi ketergantungan impor bahan baku dan barang modal dilakukan melalui kebijakan pengembangan industri antara (intermediate industry). Kebijakan ekspor dan impor itu diharapkan dapat memperbaiki posisi keseimbangan eksternal yang belakangan ini mengalami tekanan.

Itulah beberapa ulasan mengenai pertumbuhan ekonomi Indonesia yang saat ini sedang mengalami peningkatan. Semoga Indonesia tetap berusaha untuk menjadi Negara yang maju melalui Pertumbuhan ekonominya yang semakin membaik pastinya.