Penjelasan Mengenai “Pedofilia” Kekerasan Seksual Pada Anak

Banyaknya kasus kekerasan seksual yang terjadi pada Anak-anak sekarang ini, membuat banyak para orangtua cemas. Karena kesibukan para orangtua untuk bekerja sehingga tidak dapat memantau para anaknya seharian penuh. Disamping itu pelaku seks itu sendiri bisa dilakukan oleh keluarga atau orang terdekat. Mengerikan bukan?

Berikut ini kami akan membahas tentang Pedofilia, yaitu kelainan Seks yang dilakukan kepada anak-anak. Kira-kira seperti apa ya pedofilia itu dan awal pedofilia itu muncul? Yuk simak artikel dibawah ini sampai selesai.

Apa Itu Pedofilia?

Pedofilia adalah kelainan psikoseksual, di mana orang dewasa atau remaja memiliki preferensi seksual terhadap anak-anak praremaja. Gangguan ini juga dianggap sebagai parafilia, yang adalah sekelompok gangguan yang didefinisikan sebagai aktivitas seksual yang abnormal.

Pedofilia bisa juga didefinisikan sebagai gangguan kejiwaan pada orang dewasa atau remaja yang mulai dewasa (pribadi dengan usia 18 atau lebih tua) biasanya ditandai dengan suatu kepentingan seksual primer atau eksklusif pada anak prapuber (umumnya usia 16 tahun atau lebih muda, walaupun pubertas dapat bervariasi).

Ketika fantasi atau tindakan seksual melibatkan seorang anak atau lebih, sebagai cara yang lebih disukai untuk mencapai gairah dan kepuasan seksual bagi seseorang, maka orang itu dianggap sebagai “pedofil”. Para psikolog dan psikiater menganggap pedofilia sebagai gangguan mental, bukan preferensi seksual. Di banyak negara, pedofilia dikategorikan sebagai kasus pidana.

Preferensi pedofil dapat bervariasi dari orang ke orang. Beberapa individu tertarik terhadap anak laki-laki dan perempuan, beberapa tertarik hanya terhadap satu jenis kelamin, ada juga yang tertarik pada anak dan orang dewasa juga. Perilaku seksual yang terkait pedofilia juga bervariasi, ada yang melakukan kejahatan dan ada juga pedofil yang menahan diri dan menghindari kejahatan terlepas dari gangguan mental yang dimilikinya.

Beberapa pedofil membatasi perilaku mereka hanya dengan cara mengekspos diri di depan anak-anak. Tapi, ada juga yang melakukan sesuatu yang lebih jauh, misalnya seks oral atau seks genital penuh. Tidak ada pedofil yang khas. Pedofil bisa muda, tua, pria atau wanita. Biasanya, pedofil tidak memilih anak-anak yang asing sebagai sebagai korbannya.

Mereka cenderung memilih anak yang sudah mereka kenal, baik itu keluarga, tetangga, anggota tim atau komunitas yang diikuti juga oleh Si Pedofil dan lain sebagainya.

Bagaimana Pedofilia Menurut Para Ahli?

Menurut Diagnostik dan Statistik Manual Gangguan Jiwa (DSM), pedofilia adalah parafilia di mana seseorang memiliki hubungan yang kuat dan berulang terhadap dorongan seksual dan fantasi tentang anak-anak di mana perasaan mereka memiliki salah satu peran yang menyebabkan penderitaan atau kesulitan ketika interpersonal.

Pada saat ini rancangan DSM-5 mengusulkan untuk menambahkan hebefilia dengan kriteria diagnostik dan akibatnya untuk mengubah nama untuk gangguan pedohebefilik. Meskipun kondisi ini sebagian besar didokumentasikan pada pria, ada juga wanita yang mengalami gangguan tersebut dan orang yang telah menelitinya berasumsi perkiraan yang ada lebih rendah dari jumlah yang dilakukan oleh kaum pria.

Tidak ada obat yang bisa diberikan untuk orang yang mengalami gangguan pedofilia. Namun, terapi tertentu dapat mengurangi ganguan pada kondisi ini untuk tidak melakukan pelecehan seksual terhadap anak. Di Amerika Serikat, menurut Kansas v.Hendricks, pelanggar seks yang didiagnosis dengan gangguan mental tertentu, terutama pedofilia, bisa dikenakan pada komitmen sipil yang tidak terbatas,di bawah undang-undang berbagai negara bagian (umumnya disebut hukum SVP dan Undang-Undang Perlindungan dan Keselamatan Anak Adam Walsh pada tahun 2006).

Dalam penggunaan kata populernya, pedofilia berarti kepentingan seksual pada anak-anak atau tindakan pelecehan seksual terhadap anak, atau sering disebut “kelakuan pedofilia”. Misalnya, The American Heritage Stedman’s Medical Dictionary menyatakan, “Pedofilia adalah tindakan atau fantasi pada dari pihak orang dewasa yang terlibat dalam aktivitas seksual dengan anak atau anak-anak.”

Sejarah Pedofilia

Kata pedofilia berasal dari kata Yunani yaitu Paidos, yang berarti anak dan “Philia” yang berarti cinta. Pedofil ditandai dengan daya tarik seksual untuk mencintai dan melakukan seksual dengan anak-anak. Para ilmuwan pertama yang menggunakan konsep adalah seksolog Jerman dan dokter Richard Krafft-Ebing.

Dalam karya monografi Psychopatia Sexualisnya, diterbitkan pada tahun 1886, ia mendefinisikan pedofilia sebagai penyimpangan psikoseksual, terbuka untuk menyembuhkan. Hal ini berbeda jauh dengan penilaian agama dan moral yang berlaku pada hubungan seksual antara orang dewasa dan anak-anak.

Bagi Krafft-Ebing, pedofilia bisa disebabkan oleh kepikunan atau kekurangan mental. Sekitar tahun 1906an, rekannya Havelock Ellis (orang British) menyajikan pedofilia sebagai versi ekstrim seksualitas maskulin normal. Saat ini, pedofilia dipahami sebagai perbedaan kepribadian, yang disebabkan oleh kerusakan psikologis pada anak usia dini. Konsep ini jarang digunakan dalam bahasa Inggris sebelum tahun 1950-an.

Pedofilia pertama kali secara resmi diakui dan disebut pada akhir abad ke-19. Sebuah jumlah yang signifikan di daerah penelitian telah terjadi sejak tahun 1980-an. Saat ini, penyebab pasti dari pedofilia belum ditetapkan secara meyakinkan. Penelitian menunjukkan bahwa pedofilia mungkin berkorelasi dengan beberapa kelainan neurologis yang berbeda dan sering bersamaan dengan adanya gangguan kepribadian lainnya dan patologi psikologis. Dalam konteks psikologi forensik dan penegakan hukum, berbagai tipologi telah disarankan untuk mengkategorikan pedofil menurut perilaku dan motivasinya.

Karakter yang Dimiliki Seorang Pedofilia

Ada beberapa karakter yang dimiliki oleh seorang Pedofilia yang harus anda perhatikan. Terkadang pelaku pedofil bisa saja secara terang terangan menunjukkan tingkahlaku mereka di hadapan anak-anak. Maka dari itu, anda harus memperhatikan hal-hal yang menuju pada sifat pedofil. Berikut karakteristik yang dimiliki para pedofil memiliki seorang Pedofil :

  • Memiliki fantasi keinginan atau perilaku seksual terhadap anak-anak.
  • Lebih ditemani oleh anak-anak, merasa lebih nyaman berada di sekitar anak-anak.
  • Biasanya pedofil adalah orang yang populer dan sangat disukai di kalangan anak-anak dan orang dewasa di lingkungannya.
  • Biasanya, namun tidak selalu, pedofil adalah pria, maskulin dan berusia 30-an.
  • Terlalu bersifat agresif.
  • Terlalu obsesif.
  • Memiliki kepribadian yang introvert.
  • Sangat dekat dengan anak dan Senang merayu anak.

Penyebab Seseorang Menjadi Pedofil

Ada teori yang berbeda-beda mengenai mengapa seseorang bisa menjadi pedofil. Beberapa di antaranya adalah:

  • Kelainan Otak

Beberapa para ahli mengatakan jika salah satu kemungkinan penyebab pedofilia adalah kelainan pada perkembangan saraf. Tercatat, ada perbedaan dalam struktur otak di diri seorang pedofil, tepatnya di bagian frontocortical, jumlah materi abu-abu, unilateral, bilateral lobus frontal dan lobus temporal dan cerebellar.

Menurut penelitian, perbedaan ini mirip dengan orang-orang dengan gangguan kontrol impuls, seperti OCD, kecanduan dan gangguan kepribadian antisosial. Kelainan otak itu mungkin terjadi ketika si penderita masih bayi atau dalam kandungan dimana saat otak seseorang sedang terbentuk. Namun, gangguan stres pasca-trauma juga bisa menyebabkan kelainan otak.

Cara terbaik untuk mengetahui apabila seseorang merupakan pedofil, dengan membawa mereka berkonsultasi dengan psikolog untuk menemukan cara mencegah pasien melakukan aksi ilegal dan membantunya mempertahankan kehidupan yang normal. Saat mengetahui atau mencurigai seseorang dengan pedofilia, tetap tenang dan cari tahu apabila mereka dapat melakukan tindakan kriminal. Penderita yang tidak parah dan tidak berbahaya masih dapat bergaul dengan orang lain di masyarakat.

  • Pengalaman Masa Kecil

Dalam studi dan artikel yang ditulis oleh sosiolog Richard Hall dan Ryan Hall, kebanyakan pedofil pernah mengalami pelecehan seksual di masa kecilnya atau hal lain yang berkaitan dengan masalah seksual. Selama hal ini tidak ditangani dengan baik oleh psikolog dan psikiater, seorang korban pelecehan seksual di masa kecil, atau anak-anak yang terbiasa dengan pornografi anak juga bisa berpotensi menjadi pedofil.

Untuk faktor sosial yang satu ini, orangtua dan orang terdekat lain memang harus menjaga anak-anaknya agar tidak menjadi korban pelecehan seksual, atau tidak melihat konten-konten atau tontonan yang tidak seharusnya dikonsumsi oleh anak-anak. Ingat, otak anak itu belum berkembang sempurna, dan tidak semua hal bisa dilihat oleh seorang anak.

  • Permasalahan Tumbuh kembang

Nah, Studi Lanyon pada tahun 1986 menyebutkan kalau hal ini berpengaruh dengan proses tumbuh kembang dan prestasi mereka di sekolah. Dan yang terjadi si anak pun tidak mengasah dirinya supaya jadi pintar dan cerdas, hal ini menambah parahnya proses tumbuh kembang. Kemudian, karena merasa lebih “lambat” dari temen-temennya yang lain, mereka pun jadi punya kesukaan tersendiri, salah satunya ya berfantasi seksual dengan teman sebaya.

Seiring dengan bertambahnya umur, fantasi seksual mereka bisa jadi masih sama, yaitu sama-sama berfantasi tentang temen-temen sebayanya itu. Padahal, usia mereka sudah lebih dewasa. Inilah yang kemudian akan membuat mereka “stuck” pada kesenangan seksual yang sama.

  • Kurang Terbuka

Pelaku pedofil biasanya kurang terbuka terhadap orang sekitar. Dia memendam apa yang dia rasakan dan tidak berani membicarakan keburukannya kepada orang lain karena takut dihakimi atau bahkan dihukum jeruji. Nah, hal ini pun kemudian yang membuat dirinya memutuskan untuk “berjalan di bawah tanah”, atau meneruskan kebiasaan-kebiasaan buruk dan destruktif, termasuk mengincar anak-anak di bawah umur.

Hukuman atau Sanksi Bagi Pelaku Pedofilia

Ada banyak sanksi yang bisa diberikan kepada pelaku kejahatan pedopil ini, karena peristiwa tersebut sangatlah merugikan siapa pun yang menjadi korbannya. Untuk itu pemerintah memberikan hukuman yang sepantasnya didapatkan oleh pelaku kejahatan ini. Berikut hukuman atau senksi yang didapatkan oleh pelaku pedofil :

  • Sanksi bagi pedofilia menurut Kitab Undang-undang Hukum Pidana.

Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Pasal 287

1). Barang siapa bersetubuh dengan seorang wanita di luar perkawinan, padahal diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya bahwa umumya belum lima belas tahun, atau kalau umurnya tidak jelas, bawa belum waktunya untuk dikawin, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun.

2). Penuntutan hanya dilakukan atas pengaduan, kecuali jika umur wanita belum sampai dua belas tahun atau jika ada salah satu hal berdasarkan pasal 291 dan pasal 294. Pasal 292 Orang dewasa yang melakukan perbuatan cabul dengan orang lain sesama kelamin, yang diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya belum dewasa, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun.

Sedangkan hukuman lainnya menurut KUHP pasal 287 dan 292 menyebutkan bahwa masa hukuman terhadap pelaku pencabulan terhadap anak maksimal 9 tahun (pasal 287) dan maksimal 5 tahun (pasal 292)

  • Sanksi bagi pedofilia menurut UU NO. 35 Tahun 2014 atas perubahan UU no.23 tahun 2002 Tentang Pelindungan Anak

Menurut pasal 81 dan 82 UU No.23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak bahwa hukuman bagi pelaku kejahatan seksual terhadap anak minimal 3 tahun dan maksimal 15 tahun penjara serta denda minimal sebesar Rp 60 juta dan maksimal sebesar Rp 300 juta. Berikut isi pasal UU dan KUHP tersebut :

UU No.23 tahun 2002 Pasal 81

1). Setiap orang yang dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan paling singkat 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) dan paling sedikit Rp 60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah).

2). Ketentuan pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berlaku pula bagi setiap orang yang dengan sengaja melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau membujuk anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain. Pasal 82 Setiap orang yang dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan, memaksa, melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau membujuk anak untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan paling singkat 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) dan paling sedikit Rp 60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah).

  • Sanksi bagi pedofilia menurt Peraturan Pemerintah No. 1 Tahun 2016

Presiden Joko Widodo akhirnya mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas Undang-undang Perlindungan Anak, Rabu, 25 Mei 2016. Salah satu isi perpu tersebut mengatur hukuman kebiri bagi pelaku pelecehan seksual terhadap anak. Lalu, siapa yang bisa dikebiri?

Namun, apabila mengacu pada salinan perpu yang sudah ditandatangani Presiden Joko Widodo, mereka yang akan dikebiri itu sudah disebut pada Pasal 81 Perpu UU Perlindungan Anak. Tepatnya, pada Pasal 81 ayat 3-7.

Pasal 81 ayat 7 secara teknis mengatur bahwa mereka yang akan dihukum kebiri adalah mereka yang disinggung pada Pasal 81 ayat 3, 4, dan 5. Adapun mereka adalah pendidik anak, pengasuh anak, aparat perlindungan anak, anggota keluarga, dan masyarakat sipil yang melakukan pelecehan seksual secara bersama-sama atau gang rape.

Nah, mereka yang telah disebut itu tidak serta-merta langsung dikebiri begitu ketahuan melakukan kejahatan seksual. Ada “syarat” khusus yang harus dipenuhi. Pertama, mereka sudah melakukan kejahatan seksual pada anak secara berulang sebagaimana diatur pada ayat4. Kedua, pelaku menyebabkan korban terluka berat, sakit jiwa, terkena penyakit menular, terganggu alat reproduksinya, atau meninggal, sebagaimana diatur ayat 5.

Apakah Pedofilia Dapat Diobati?

Ya, pedofilia bisa saja diobati. Meskipun para ahli banyak yang berpikir bahwa pedofilia tidak dapat diobati, terapi dapat membantu orang-orang pedofil untuk mengatur perasaan mereka dan tidak melakukan dorongan seksualnya di kehidupan nyata. Beberapa pasien yang tidak mampu mengontrol dorongan seksualnya memang membutuhkan obat untuk mengurangi hasrat seksulanya.

Pengobatan terhadap gangguan ini sangat penting, meskipun jarang ada pedofil yang mencari pengobatan sendiri. Kebanyakan mereka berobat karena perintah pengadilan. Bentuk paling umum pengobatan pedofilia adalah psikoterapi dan/atau obat. Pengobatan ini cenderung efektif. Tapi, banyak pedofil yang kemudian kambuh lagi. Jika Anda merasa Anda mungkin menderita pedofilia, segera cari bantuan psikolog atau psikiater profesional.

Mereka akan membantu Anda untuk lebih bisa memahami diri sendiri dan gangguan yang Anda miliki. Mereka juga akan membantu Anda mengatasi dorongan seks khas pedofilia dan mengarahkan Anda ke cara hidup yang lebih baik, ketimbang merusak masa depan anak-anak kecil tak berdosa.

Demikian informasi tentang pedofilia yang bisa kami sajikan untuk anda. Tetap jaga dan waspadai dimana pun anak anda bermain dan bergaul, baik itu dengan keluarga, orang dekat, atau bahkan orang yang tak dikenal. Jangan perna biarkan anak anda dengan bebas bergaul dengan siapapun tetap awasi mereka namun tidak juga terlalu mengekangnya.